Longsor Curug Cileat Renggut Nyawa Dua Wisatawan Asal Karawang

 


Subang - Perjalanan wisata dua perempuan asal Karawang ke Curug Cileat, Kabupaten Subang, Jawa Barat, berakhir duka. Keduanya ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor di jalur menuju kawasan wisata alam tersebut, Sabtu (16/5/2026).

Dua korban diketahui bernama Alda Apriliani, warga Cikampek, Karawang, dan Winda Limbong, warga Kosambi, Karawang. Mereka sebelumnya dilaporkan hilang setelah kawasan Curug Cileat diguyur hujan deras hingga memicu longsor dari tebing di sekitar jalur wisata.

Peristiwa nahas itu terjadi di kawasan Curug Cileat, Kampung Cibogo, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Longsor disebut berasal dari tebing setinggi sekitar 250 meter yang runtuh akibat tingginya curah hujan di wilayah tersebut. Material tanah kemudian menutup jalur yang dilalui korban.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak Jumat sore. Operasi dilanjutkan pada Sabtu pagi dengan pembagian tugas pencarian dan pemetaan area. Basarnas juga menggunakan drone thermal untuk membantu mempercepat proses pencarian di medan yang sulit.

Upaya pencarian akhirnya membuahkan hasil pada Sabtu siang. Kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, tertimbun material longsor di kedalaman sekitar dua meter. Jasad keduanya kemudian dievakuasi oleh tim gabungan menuju rumah duka.

Kepala BPBD Subang, Udin Jazudin, menyebut pencarian dilakukan sejak korban dilaporkan hilang pada Jumat sore. Setelah hampir satu hari proses pencarian, petugas akhirnya menemukan kedua korban di sekitar area longsor.

“Setelah dilakukan pencarian sejak Jumat sore, dua korban longsor di kawasan Curug Cileat Subang akhirnya ditemukan pada Sabtu siang,” kata Udin, sebagaimana dilansir sejumlah media.

Kisah pilu menyelimuti proses evakuasi tersebut. Kedua korban disebut ditemukan dalam posisi berdekatan. Temuan itu memperkuat suasana duka atas insiden yang menimpa dua wisatawan muda tersebut, terlebih keduanya diduga masih berusaha bertahan saat material longsor menimbun jalur wisata.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi pengelola wisata alam dan para pengunjung agar lebih waspada terhadap potensi bencana, terutama saat cuaca buruk. Kawasan air terjun, jalur pendakian, lereng curam, dan tebing basah memiliki risiko tinggi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Selain kesiapsiagaan petugas, pengawasan jalur wisata, informasi cuaca, papan peringatan, hingga pembatasan akses saat hujan deras perlu diperkuat. Langkah tersebut penting agar kawasan wisata alam tetap dapat dinikmati masyarakat tanpa mengabaikan keselamatan pengunjung.

Tragedi Curug Cileat bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pengingat bahwa wisata alam selalu menuntut kehati-hatian. Keindahan alam tidak pernah benar-benar terpisah dari risiko, terutama ketika cuaca ekstrem datang tanpa banyak tanda.

Comments